Bahagia.
Senang. Makna dari kedua kata tersebut hampir sama tapi berbeda rasanya. Ketika
kebutuhan sebuah rasa bahagia timbul, biasanya kita akan melampiaskan dengan mencari
kesenangan. Tentu banyak sekali hal bisa membuat kita merasakan senang. Boleh
jadi kita dapat bersenang-senang setiap hari. Berkumpul dengan teman-teman
hilanglah stres dalam diri. Bisa menjadi publik figur, meski hanya di kota
kecil. Hingga mencari kesenangan dengan melakukan tindakan sedikit melanggar
norma dan adat hingga perilaku menyimpang. Tergantung siapa yang melakukan dan
alasan mereka pun pasti beragam.
Namun,
benarkah tuntutan rasa bahagia itu semudah itu dapat dituntaskan? Cobalah tanyakan
kembali pada hati kecil kita. Setelah merasakan kesenangan itu, apakah rasa
haus akan sebuah rasa bahagia masih nyata hasratnya?
Saya ingin
bercerita tentang kisah saya di masa-masa masih jadi penyiar dulu. Keinginan menjadi
penyiar telah ada sejak saya masih duduk di bangku SMP. Begitu terpesona dan
terkagum ketika mendengarkan penyiar pujaan sedang siaran. Mengkhayalkan suatu
saat nanti bisa menjadi salah satu penyiar seperti dia. Dan akhirnya, ada jalan
ketika usia saya 20 tahun. Berarti 6 tahun semenjak saya menghasratkan menjadi
seorang penyiar. Waktu memang berperan penting. Ketika Tuhan merasa itu saat
yang tepat maka dibukakanlah jalan itu bagi yang ummatNya.
Senang. Itu satu
kata yang ada dihati kala mendapat kesempatan menjadi penyiar. Pertama kali
siaran pun seakan ada dentuman-dentuman dalam dada. Saya menyebutnya sebuah
rasa bahagia. Akan tetapi, rasa itu berangsur hilang. Yang ada hanya rasa bahwa
saya wajib menyiarkan sebuah hal yang bisa membuat orang lain senang dan
bahagia. Dengan berdalih ketika oranglain bahagia maka saya pun akan merasakan
kebahagiaan mereka. Ya, bibir ini mampu tersenyum dan tertawa bersama mereka,
kala melayani phone live dari pendengar.
Namun ketika pendengar tadi menutup telepon dan saya memutar lagu, rasa senang
tadi seakan lenyap. Menguap begitu saja. Hilang tak berbekas. Aneh dan sangat
konyol. Selalu seperti itu. Rasa senang yang sesaat lalu setelahnya inginkan
rasa senang yang lebih dan lebih. Seakan ada lubang dalam hati yang tak cukup
hanya di tambal dengan tertawa dan bersenang-senang. Dan rasa itu adalah
bahagia.
Kemudian,
bagaimana mendapatkan rasa bahagia itu? Butuh waktu panjang hingga akhirnya
saya menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Setelah sebelumnya, hampir
sepuluh tahun lebih saya mengejar rasa bahagia itu. Setiap kali saya mengejarnya,
beragam feedback yang aku dapatkan. Seringnya kecewa yang saya
dapatkan. Air mata sudah jadi tradisi ketika bahagia itu tidak didapatkan malah
kekecewaan yang diterima. Paling banter hanya kesenangan sesaat semata yang
saya raih. Tapi bahagia, entah wujudnya seperti apa.
Kini, setelah
sekian banyak mengalami jatuh bangun. Merasakan kekecewaan, kepedihan serta
rasa sakit yang tak terhitung hingga menimbulkan kecenderungan paranoid. Akhirnya
saya memahami arti dari sebuah kebahagiaan itu. Kedamaian, ketenangan yang
bersumber dari rasa syukur merupakan kunci mendapatkan kebahagiaan yang selama
bertahun-tahun ini saya cari. Semakin dekat dengan Allah atau Sang Pencipta
maka kebahagiaan itu akan selalu bersemayam dalam diri setiap manusia. Karena
hanya Tuhan-lah yang paling mengerti dan memahami dengan jalan mana dan cara
yang bagaimana kebahagiaan itu dihadirkan untuk kita. Selamat menikmati
kebahagiaan yang bersumber dari Tuhan. Jum’at Berkah datang dari Allah Karim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar