Jumat, 11 Maret 2016

Senang dan Bahagia

Bahagia. Senang. Makna dari kedua kata tersebut hampir sama tapi berbeda rasanya. Ketika kebutuhan sebuah rasa bahagia timbul, biasanya kita akan melampiaskan dengan mencari kesenangan. Tentu banyak sekali hal bisa membuat kita merasakan senang. Boleh jadi kita dapat bersenang-senang setiap hari. Berkumpul dengan teman-teman hilanglah stres dalam diri. Bisa menjadi publik figur, meski hanya di kota kecil. Hingga mencari kesenangan dengan melakukan tindakan sedikit melanggar norma dan adat hingga perilaku menyimpang. Tergantung siapa yang melakukan dan alasan mereka pun pasti beragam.
Namun, benarkah tuntutan rasa bahagia itu semudah itu dapat dituntaskan? Cobalah tanyakan kembali pada hati kecil kita. Setelah merasakan kesenangan itu, apakah rasa haus akan sebuah rasa bahagia masih nyata hasratnya?
Saya ingin bercerita tentang kisah saya di masa-masa masih jadi penyiar dulu. Keinginan menjadi penyiar telah ada sejak saya masih duduk di bangku SMP. Begitu terpesona dan terkagum ketika mendengarkan penyiar pujaan sedang siaran. Mengkhayalkan suatu saat nanti bisa menjadi salah satu penyiar seperti dia. Dan akhirnya, ada jalan ketika usia saya 20 tahun. Berarti 6 tahun semenjak saya menghasratkan menjadi seorang penyiar. Waktu memang berperan penting. Ketika Tuhan merasa itu saat yang tepat maka dibukakanlah jalan itu bagi yang ummatNya.
Senang. Itu satu kata yang ada dihati kala mendapat kesempatan menjadi penyiar. Pertama kali siaran pun seakan ada dentuman-dentuman dalam dada. Saya menyebutnya sebuah rasa bahagia. Akan tetapi, rasa itu berangsur hilang. Yang ada hanya rasa bahwa saya wajib menyiarkan sebuah hal yang bisa membuat orang lain senang dan bahagia. Dengan berdalih ketika oranglain bahagia maka saya pun akan merasakan kebahagiaan mereka. Ya, bibir ini mampu tersenyum dan tertawa bersama mereka, kala melayani phone live dari pendengar. Namun ketika pendengar tadi menutup telepon dan saya memutar lagu, rasa senang tadi seakan lenyap. Menguap begitu saja. Hilang tak berbekas. Aneh dan sangat konyol. Selalu seperti itu. Rasa senang yang sesaat lalu setelahnya inginkan rasa senang yang lebih dan lebih. Seakan ada lubang dalam hati yang tak cukup hanya di tambal dengan tertawa dan bersenang-senang. Dan rasa itu adalah bahagia.
Kemudian, bagaimana mendapatkan rasa bahagia itu? Butuh waktu panjang hingga akhirnya saya menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Setelah sebelumnya, hampir sepuluh tahun lebih saya mengejar rasa bahagia itu. Setiap kali saya mengejarnya, beragam feedback  yang aku dapatkan. Seringnya kecewa yang saya dapatkan. Air mata sudah jadi tradisi ketika bahagia itu tidak didapatkan malah kekecewaan yang diterima. Paling banter hanya kesenangan sesaat semata yang saya raih. Tapi bahagia, entah wujudnya seperti apa.
Kini, setelah sekian banyak mengalami jatuh bangun. Merasakan kekecewaan, kepedihan serta rasa sakit yang tak terhitung hingga menimbulkan kecenderungan paranoid. Akhirnya saya memahami arti dari sebuah kebahagiaan itu. Kedamaian, ketenangan yang bersumber dari rasa syukur merupakan kunci mendapatkan kebahagiaan yang selama bertahun-tahun ini saya cari. Semakin dekat dengan Allah atau Sang Pencipta maka kebahagiaan itu akan selalu bersemayam dalam diri setiap manusia. Karena hanya Tuhan-lah yang paling mengerti dan memahami dengan jalan mana dan cara yang bagaimana kebahagiaan itu dihadirkan untuk kita. Selamat menikmati kebahagiaan yang bersumber dari Tuhan. Jum’at Berkah datang dari Allah Karim.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar