Dalam kondisi masih sakit aku nekad datang ke tempat mama S***h. Untuk silaturahmi dan belajar. Nasehatnya setahun lalu yang tak aku camkan membuat hidupku sempat terjatuh. Aku ingin dapat nasehat lagi disaat seperti ini. Darinya aku dapat, bahwa tak perlu menggubris omongan orang. Memasak itu tak perlu di adaadain. "Hanya sekedar mengganjal perut, secukupnya saja." Ya benar. Aku melihat sendiri bagaimana cara ia masak. Di usia yang sudah menginjak 52 tahun, beliau masih lincah. Masak lodeh hanya secemung kecil kirakira hanya seliter air asal cukup untuk berdua dengan putrinya. Lodeh itu terbuat dari sebuah terong, separuh kecil labu siam dan irisan tempe yang di tambah santan dari ampas kelapa seribu perak. Tanpa menggunakan saringan ia peras santan langsung dengan tangannya di atas cemung. Ah... setelah matang, rasanya tetap lodeh yang nikmat meski dengan bumbu seadanya. Lalu ia memasak sayur bening. Dengan sisa sayur dari racikan lodeh tadi, labu siam dan oyong tidak ia masak semua tapi disisakan untuk membuat sayur bening untuk cucunya. Sebagai pelengkap sayur bening itu ia ambil beberapa lembar daun bayam yang tumbuh di depan rumahnya. Ah... simple sekali. Dan jadilah sayur bening yang enak tanpa msg untuk cucunya. Yang paling mengesankan aku, ia membuat mendoan goreng dengan tepung yang hanya di beri garam dan vetsin serta sejumput daun bawang. Tanpa bumbu lainnya, hasil akhirnya? Rasanya tetap sama seperti mendoan meski tak kaya rasa. Ah... jika sewaktuwaktu kepepet kehabisan bumbu asalkan ada garam dan vetsin (meski selama ini tak pernah ada vetsin di dapurku) mendoan tetap akan tersaji di rumah kecilku.
Putrinya, ternyata punya masalah dengan suaminya. Suaminya itu selingkuh dengan perempuan lain. Ah... kasihan anak mereka. Aku merasa masih lebih beruntung. Suamiku lelaki yang luar biasa hatinya.
Terakhir, untuk memberinya uang secara cumacuma jelas bukan gayaku. Maka seperti biasa aku meminta ia menunjukkan ketrampilannya. Ya... saat ia melakukan itu, aku asyik sendiri dengan cucunya. Tak terlalu memperhatikan. Hanya sekedar saja. Toh, buktinya tak banyak yang bisa ia pertunjukkan. Karena cucunya juga rewel.
Tapi belajar kali ini di rumahnya membuat aku jauh lebih santai. Dan dalam perjalanan pulang, aku melihat masih banyak yang hidupnya lebih menderita dibandingkan aku. Alhamdulillah ... demikian aku menyikapi akan hidupku.
Di sini aku bercerita. Meluapkan segenap rasa. Selintas kata penuh makna. Untuk ku, kamu dan kita semua.
Senin, 21 September 2015
Bertamu, bersilaturahmi dan belajar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar