Bagi sebagian
orang menikah merupakan salah satu hal yang sangat didambakan. Tentu saja
syaratnya harus menemukan pasangan yang siap untuk diajak menikah. Entah itu
atas dasar saling mencintai, dijodohkan yang diartikan hanya salah satu pihak
yang cinta atau dengan alasan lain. Hanya sebagai penutup aib mungkin? Bisa juga
sebagai tameng untuk mengelabui mata khalayak. Lebih tragis lagi, menikah atas
dasar harta. Yang pasti, setiap orang memiliki alasan untuk menikahi seseorang.
Seperti saya, menikah saat itu atas dasar ibadah.
Jika memang
menikah itu sesuatu yang didambakan, mengapa masih saja ada orang-orang yang
masih sendiri di usia yang sudah tak remaja lagi. Membujang atau tetap menjadi
perawan di sebut orang demikian. Alasan pasti tidak ada yang tahu. Tentu saja yang
bersangkutanlah yang paling paham mengenai alasan mereka masih sendiri di usia
yang sudah tak dapat dikatakan belia. Malah sudah melewati usia menikah, kalau
di katakan matang sepertinya sudah kelewat matang.
Usia lewat 35
tahun. Masih memilih sendiri. Itu merupakan pilihan atau memang belum menemukan
yang pas di hati? Terlalu sering memilih dan bergonta-ganti pacar bisa jadi
bukannya membuat seseorang itu akhirnya menemukan pasangan yang tepat baginya,
bisa jadi malah membuat dirinya merasa bahwa lawan jenis itu sudah bisa ditebak
karakter dan sifatnya.
Bagi mereka
yang disebut atau dapat julukan seorang “player” bergonta-ganti pacar adalah
hal lumrah. Dengan dalih, penjajakan untuk mencari yang tepat dan pas dihati. Bukankah
menikah itu tak boleh asal pilih pasangan? Betul. Sangat betul. Akan tetapi,
jika semakin lama di teruskan kebiasaan itu yang ada hanya ketidakpuasan. Karena
sudah sering bertemu dengan wanita dengan karakter yang bagi dia tak seperti
yang diharapkan. Sehingga ia akan terus mencari dan terus mencari. Lalu kapan
waktunya untuk dia menikah?
Manusia itu
tak ada yang sempurna. Bukankah demikian? Jadi jika mencari yang sempurna,
tentu saja bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Paling tidak, menikahlah
sesuai syariat atau tuntunan Rosululloh (bagi yang muslim). Pribadi yang baik
agamanya merupakan pilihan yang utama. Kriteria lainnya bisa mengikuti. Ketika seseorang
yang agamanya baik, insya Allah ia tak akan berusaha menyakiti pasangannya. Seorang
imam yang baik akan menjaga istrinya dengan sepenuh hati. Bertanggungjawab terhadap
kecukupan lahir batin istri dan anak-anaknya. Ketika imamnya mampu menerapkan ajaran
agama dalam kehidupan sebuah keluarga, niscaya kedamaian dan ketentraman akan
tercipta dalam rumah yang mereka tinggali.
Ada alasan
lain lagi bagi mereka yang masih membujang hingga saat ini. Salah satunya
mereka lebih suka menikmati kebebasan. Mereka bebas pergi kemana mereka mau. Kumpul
bersama teman-teman tak ingat waktu. Happy dan mendekati hura-hura layak jadi
hal yang utama bagi mereka. Malah ada yang berpendapat bahwa menikah itu hanya
akan menjenggal kebebasan mereka. Ketika mereka harus menikmati kebersamaan
dengan teman-teman waktu mereka terbatasi, karena ada istri di rumah yang
menunggu atau bahkan jengah berkali-kali di sms dan ditelepon berkali-kali.
Jadi, saat ini
sudah siapkah Anda menikah? Apa dasar Anda menikah? Lalu mampukah total di dalam
pernikahan Anda? Atau hanya sebagai syarat saja? Semata mengikuti sunah Rosul. Bahkan
karena ini merupakan sunnah, bisa jadi Anda beranggapan tak menikahpun tak
masalah. Ya, itu pilihan Anda. Setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya
masing-masing. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berpikir
dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar