Kamis, 10 Maret 2016

Pilih Mana, Membujang atau Menikah?

Bagi sebagian orang menikah merupakan salah satu hal yang sangat didambakan. Tentu saja syaratnya harus menemukan pasangan yang siap untuk diajak menikah. Entah itu atas dasar saling mencintai, dijodohkan yang diartikan hanya salah satu pihak yang cinta atau dengan alasan lain. Hanya sebagai penutup aib mungkin? Bisa juga sebagai tameng untuk mengelabui mata khalayak. Lebih tragis lagi, menikah atas dasar harta. Yang pasti, setiap orang memiliki alasan untuk menikahi seseorang. Seperti saya, menikah saat itu atas dasar ibadah.

Jika memang menikah itu sesuatu yang didambakan, mengapa masih saja ada orang-orang yang masih sendiri di usia yang sudah tak remaja lagi. Membujang atau tetap menjadi perawan di sebut orang demikian. Alasan pasti tidak ada yang tahu. Tentu saja yang bersangkutanlah yang paling paham mengenai alasan mereka masih sendiri di usia yang sudah tak dapat dikatakan belia. Malah sudah melewati usia menikah, kalau di katakan matang sepertinya sudah kelewat matang.

Usia lewat 35 tahun. Masih memilih sendiri. Itu merupakan pilihan atau memang belum menemukan yang pas di hati? Terlalu sering memilih dan bergonta-ganti pacar bisa jadi bukannya membuat seseorang itu akhirnya menemukan pasangan yang tepat baginya, bisa jadi malah membuat dirinya merasa bahwa lawan jenis itu sudah bisa ditebak karakter dan sifatnya.

Bagi mereka yang disebut atau dapat julukan seorang “player” bergonta-ganti pacar adalah hal lumrah. Dengan dalih, penjajakan untuk mencari yang tepat dan pas dihati. Bukankah menikah itu tak boleh asal pilih pasangan? Betul. Sangat betul. Akan tetapi, jika semakin lama di teruskan kebiasaan itu yang ada hanya ketidakpuasan. Karena sudah sering bertemu dengan wanita dengan karakter yang bagi dia tak seperti yang diharapkan. Sehingga ia akan terus mencari dan terus mencari. Lalu kapan waktunya untuk dia menikah?

Manusia itu tak ada yang sempurna. Bukankah demikian? Jadi jika mencari yang sempurna, tentu saja bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Paling tidak, menikahlah sesuai syariat atau tuntunan Rosululloh (bagi yang muslim). Pribadi yang baik agamanya merupakan pilihan yang utama. Kriteria lainnya bisa mengikuti. Ketika seseorang yang agamanya baik, insya Allah ia tak akan berusaha menyakiti pasangannya. Seorang imam yang baik akan menjaga istrinya dengan sepenuh hati. Bertanggungjawab terhadap kecukupan lahir batin istri dan anak-anaknya. Ketika imamnya mampu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sebuah keluarga, niscaya kedamaian dan ketentraman akan tercipta dalam rumah yang mereka tinggali.

Ada alasan lain lagi bagi mereka yang masih membujang hingga saat ini. Salah satunya mereka lebih suka menikmati kebebasan. Mereka bebas pergi kemana mereka mau. Kumpul bersama teman-teman tak ingat waktu. Happy dan mendekati hura-hura layak jadi hal yang utama bagi mereka. Malah ada yang berpendapat bahwa menikah itu hanya akan menjenggal kebebasan mereka. Ketika mereka harus menikmati kebersamaan dengan teman-teman waktu mereka terbatasi, karena ada istri di rumah yang menunggu atau bahkan jengah berkali-kali di sms dan ditelepon berkali-kali.


Jadi, saat ini sudah siapkah Anda menikah? Apa dasar Anda menikah? Lalu mampukah total di dalam pernikahan Anda? Atau hanya sebagai syarat saja? Semata mengikuti sunah Rosul. Bahkan karena ini merupakan sunnah, bisa jadi Anda beranggapan tak menikahpun tak masalah. Ya, itu pilihan Anda. Setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya masing-masing. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berpikir dengan baik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar