Jumat, 11 Maret 2016

I'm Alive By Celline Dion

        Lagu ini semalam memberi kekuatan baru. Yang artinya aku tidak akan takut sendiri. Tuhan akan memampukan aku terbang tinggi layaknya memiliki sayap. Sehingga aku bisa meraih impianku yang berada di atas langit. Aku ingin menjadi Juara. Dengan satu jari telunjuk terarah ke atas langit. Satu jari itu adalah bukti bahwa aku milik Tuhan dan bersama Dia aku akan mampu mengejar lalu meraih cita -impianku yang selama ini aku dambakan. 
Bismillah...

Mmmm...I get wings to flyOh, I'm alive

When you call on meWhen I hear you breathI get wings to flyI feel that I'm alive
When you look at meI can touch the skyI know that I'm alive
When you bless the dayI just drift awayAll my worries dieI'm glad that I'm aliveYou've set my heart on fireFilled me with loveMade me a woman on clouds above
I couldn't get much higherMy spirit takes flight'Cause I'm alive
(When you call on me)When you call on me(When I hear you breath)When I hear you breathI get wings to flyI feel that I'm aliveI am alive
(When you reach for me)When you reach for meRaising spirits highGod knows thatThat I'll be the oneStanding byThrough good and through trying timesAnd it's only begunI can't wait for the rest of my life

(When you call on me)When you call on me(When you reach for me)When you reach for meI get wings to flyI feel that

(When you bless the day)When you bless, you bless the dayI just drift awayAll my worries dieI'm glad that I'm alive

When you bless the day(I just drift away)I just drift awayAll my worries dieI know that I'm aliveI get wings to flyGod knows that I'm alive

Céline Dion - I'm Alive - YouTube


https://www.youtube.com/watch?v=NJsa6-y4sDs

Senang dan Bahagia

Bahagia. Senang. Makna dari kedua kata tersebut hampir sama tapi berbeda rasanya. Ketika kebutuhan sebuah rasa bahagia timbul, biasanya kita akan melampiaskan dengan mencari kesenangan. Tentu banyak sekali hal bisa membuat kita merasakan senang. Boleh jadi kita dapat bersenang-senang setiap hari. Berkumpul dengan teman-teman hilanglah stres dalam diri. Bisa menjadi publik figur, meski hanya di kota kecil. Hingga mencari kesenangan dengan melakukan tindakan sedikit melanggar norma dan adat hingga perilaku menyimpang. Tergantung siapa yang melakukan dan alasan mereka pun pasti beragam.
Namun, benarkah tuntutan rasa bahagia itu semudah itu dapat dituntaskan? Cobalah tanyakan kembali pada hati kecil kita. Setelah merasakan kesenangan itu, apakah rasa haus akan sebuah rasa bahagia masih nyata hasratnya?
Saya ingin bercerita tentang kisah saya di masa-masa masih jadi penyiar dulu. Keinginan menjadi penyiar telah ada sejak saya masih duduk di bangku SMP. Begitu terpesona dan terkagum ketika mendengarkan penyiar pujaan sedang siaran. Mengkhayalkan suatu saat nanti bisa menjadi salah satu penyiar seperti dia. Dan akhirnya, ada jalan ketika usia saya 20 tahun. Berarti 6 tahun semenjak saya menghasratkan menjadi seorang penyiar. Waktu memang berperan penting. Ketika Tuhan merasa itu saat yang tepat maka dibukakanlah jalan itu bagi yang ummatNya.
Senang. Itu satu kata yang ada dihati kala mendapat kesempatan menjadi penyiar. Pertama kali siaran pun seakan ada dentuman-dentuman dalam dada. Saya menyebutnya sebuah rasa bahagia. Akan tetapi, rasa itu berangsur hilang. Yang ada hanya rasa bahwa saya wajib menyiarkan sebuah hal yang bisa membuat orang lain senang dan bahagia. Dengan berdalih ketika oranglain bahagia maka saya pun akan merasakan kebahagiaan mereka. Ya, bibir ini mampu tersenyum dan tertawa bersama mereka, kala melayani phone live dari pendengar. Namun ketika pendengar tadi menutup telepon dan saya memutar lagu, rasa senang tadi seakan lenyap. Menguap begitu saja. Hilang tak berbekas. Aneh dan sangat konyol. Selalu seperti itu. Rasa senang yang sesaat lalu setelahnya inginkan rasa senang yang lebih dan lebih. Seakan ada lubang dalam hati yang tak cukup hanya di tambal dengan tertawa dan bersenang-senang. Dan rasa itu adalah bahagia.
Kemudian, bagaimana mendapatkan rasa bahagia itu? Butuh waktu panjang hingga akhirnya saya menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Setelah sebelumnya, hampir sepuluh tahun lebih saya mengejar rasa bahagia itu. Setiap kali saya mengejarnya, beragam feedback  yang aku dapatkan. Seringnya kecewa yang saya dapatkan. Air mata sudah jadi tradisi ketika bahagia itu tidak didapatkan malah kekecewaan yang diterima. Paling banter hanya kesenangan sesaat semata yang saya raih. Tapi bahagia, entah wujudnya seperti apa.
Kini, setelah sekian banyak mengalami jatuh bangun. Merasakan kekecewaan, kepedihan serta rasa sakit yang tak terhitung hingga menimbulkan kecenderungan paranoid. Akhirnya saya memahami arti dari sebuah kebahagiaan itu. Kedamaian, ketenangan yang bersumber dari rasa syukur merupakan kunci mendapatkan kebahagiaan yang selama bertahun-tahun ini saya cari. Semakin dekat dengan Allah atau Sang Pencipta maka kebahagiaan itu akan selalu bersemayam dalam diri setiap manusia. Karena hanya Tuhan-lah yang paling mengerti dan memahami dengan jalan mana dan cara yang bagaimana kebahagiaan itu dihadirkan untuk kita. Selamat menikmati kebahagiaan yang bersumber dari Tuhan. Jum’at Berkah datang dari Allah Karim.

            

Kamis, 10 Maret 2016

Pilih Mana, Membujang atau Menikah?

Bagi sebagian orang menikah merupakan salah satu hal yang sangat didambakan. Tentu saja syaratnya harus menemukan pasangan yang siap untuk diajak menikah. Entah itu atas dasar saling mencintai, dijodohkan yang diartikan hanya salah satu pihak yang cinta atau dengan alasan lain. Hanya sebagai penutup aib mungkin? Bisa juga sebagai tameng untuk mengelabui mata khalayak. Lebih tragis lagi, menikah atas dasar harta. Yang pasti, setiap orang memiliki alasan untuk menikahi seseorang. Seperti saya, menikah saat itu atas dasar ibadah.

Jika memang menikah itu sesuatu yang didambakan, mengapa masih saja ada orang-orang yang masih sendiri di usia yang sudah tak remaja lagi. Membujang atau tetap menjadi perawan di sebut orang demikian. Alasan pasti tidak ada yang tahu. Tentu saja yang bersangkutanlah yang paling paham mengenai alasan mereka masih sendiri di usia yang sudah tak dapat dikatakan belia. Malah sudah melewati usia menikah, kalau di katakan matang sepertinya sudah kelewat matang.

Usia lewat 35 tahun. Masih memilih sendiri. Itu merupakan pilihan atau memang belum menemukan yang pas di hati? Terlalu sering memilih dan bergonta-ganti pacar bisa jadi bukannya membuat seseorang itu akhirnya menemukan pasangan yang tepat baginya, bisa jadi malah membuat dirinya merasa bahwa lawan jenis itu sudah bisa ditebak karakter dan sifatnya.

Bagi mereka yang disebut atau dapat julukan seorang “player” bergonta-ganti pacar adalah hal lumrah. Dengan dalih, penjajakan untuk mencari yang tepat dan pas dihati. Bukankah menikah itu tak boleh asal pilih pasangan? Betul. Sangat betul. Akan tetapi, jika semakin lama di teruskan kebiasaan itu yang ada hanya ketidakpuasan. Karena sudah sering bertemu dengan wanita dengan karakter yang bagi dia tak seperti yang diharapkan. Sehingga ia akan terus mencari dan terus mencari. Lalu kapan waktunya untuk dia menikah?

Manusia itu tak ada yang sempurna. Bukankah demikian? Jadi jika mencari yang sempurna, tentu saja bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Paling tidak, menikahlah sesuai syariat atau tuntunan Rosululloh (bagi yang muslim). Pribadi yang baik agamanya merupakan pilihan yang utama. Kriteria lainnya bisa mengikuti. Ketika seseorang yang agamanya baik, insya Allah ia tak akan berusaha menyakiti pasangannya. Seorang imam yang baik akan menjaga istrinya dengan sepenuh hati. Bertanggungjawab terhadap kecukupan lahir batin istri dan anak-anaknya. Ketika imamnya mampu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sebuah keluarga, niscaya kedamaian dan ketentraman akan tercipta dalam rumah yang mereka tinggali.

Ada alasan lain lagi bagi mereka yang masih membujang hingga saat ini. Salah satunya mereka lebih suka menikmati kebebasan. Mereka bebas pergi kemana mereka mau. Kumpul bersama teman-teman tak ingat waktu. Happy dan mendekati hura-hura layak jadi hal yang utama bagi mereka. Malah ada yang berpendapat bahwa menikah itu hanya akan menjenggal kebebasan mereka. Ketika mereka harus menikmati kebersamaan dengan teman-teman waktu mereka terbatasi, karena ada istri di rumah yang menunggu atau bahkan jengah berkali-kali di sms dan ditelepon berkali-kali.


Jadi, saat ini sudah siapkah Anda menikah? Apa dasar Anda menikah? Lalu mampukah total di dalam pernikahan Anda? Atau hanya sebagai syarat saja? Semata mengikuti sunah Rosul. Bahkan karena ini merupakan sunnah, bisa jadi Anda beranggapan tak menikahpun tak masalah. Ya, itu pilihan Anda. Setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya masing-masing. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berpikir dengan baik. 

Selasa, 08 Maret 2016

PARANOID

Kepribadian merupakan kata yang menunjukkan pola berperilaku yang menetap pada diri seseorang dan juga cara diri seseorang tersebut dalam merasakan sesuatu. Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain, dikatakan bukan sebagai sesuatu yang bersifat patologis jika terkadang suatu model kepribadian tertentu menciptakan suatu masalah interperseonal dengan orang lain, hal tersebut hanyalah sebuah benturan kecil dari perbedaan tersebut.

Lain halnya dengan gangguan Kepribadian yang dimana merupakan pola kronis dari perasaan dan tingkahlaku yang mana secara mencolok menyimpang dari kebiasaan dan harapan yang berlaku dalam kehidupannya entah norma secara kelompok atau pribadi. Mereka yang mengalami gangguan kepribadian cenderung akan berperilaku kaku, tidak fleksibel dan maladaptif, serta mengarahkan penderita pada hilangnya fungsi mental seperti terjadinya perasaan kalut dan kesedihan yang bersifat merusak di dalam diri penderita.

Definisi Gangguan Kepribadian Paranoid

Terdapat banyak jenis gangguan kepribadian yang dapat menyerang mental seseorang, salah satunya adalah gangguan kepribadian paranoid, yang mana berbentuk kesalahan dalam mengartikan perilaku orang lain sebagai suatu hal yang bertujuan menyerang atau merendahkan dirinya. Gangguan biasa muncul pada masa dewasa awal yang mana merupakan manifestasi dari rasa tidak percaya dan kecurigaan yang tidak tepat terhadap orang lain sehingga menghasilkan kesalahpahaman atas tindakan orang lain sebagai sesuatu yang akan merugikan dirinya.

Para penderita gangguan kepribadian paranoid cenderung tidak memiliki kemampuan untuk menyatakan perasaan negatif yang mereka miliki terhadap orang lain, selain itu mereka pada umumnya juga tidak kehilangan hubungan dengan dunia nyata, dengan kata lain berada dalam kesadaran saat mengalami kecurigaan yang mereka alami walau secara berlebihan. Penderita akan merasa sangat tidak nyaman untuk berada bersama orang lain, walaupun di dalam lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang hangat dan ramah. Dimana dan bersama siapa saja mereka akan memiliki perasaan ketakutan akan dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Gejala

Beberapa gejala yang ditunjukan dalam gangguan kepribadian paranoid antara lain adalah:
1. Kecurigaan yang sangat berlebihan.
2. Meyakini akan adanya motif-motif tersembunyi dari orang lain.
3. Merasa akan dimanfaatkan atau dikhianati oleh orang lain.
4. Ketidakmampuan dalam melakukan kerjasama dengan orang lain.
5. Isolasi sosial.
6. Gambaran yang buruk mengenai diri sendiri.
7. Sikap tidak terpengaruh.
8. Rasa permusuhan.
9. Secara terus menerus menanggung dendam yaitu dengan tidak memaafkan kerugian, cedera atau kelalaian.
10. Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah dan balas menyerang.
11. Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan digunakan secara jahat untuk melawan dirinya.
12. Kurang memiliki rasa humor.

Mereka yang memiliki gangguan ini menunjukan kebutuhan yang tinggi terhadap mencukupi dirinya, terkesan kaku dan bahkan memberikan tuduhan kepada orang lain. Dikarenakan perilaku menghindar mereka terhadap kedekatan dengan orang lain menjadikan mereka terlihat sangat penuh perhitungan dalam bertindak dan juga berkesan dingin. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kebanyakan gangguan ini ditemukan pada pria dibandingkan pada perempuan.

Penyebab

Secara spesifik penyebab dari munculnya gangguan ini masih belum diketahui. Gangguan kepribadian paranoid juga dapat disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang buruk ditambah dengan keadaan lingkungan yang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan orang lain juga dapat menjadi penyebab dari berkembangnya gangguan ini.


Dikutip dari Psikoterapis.com

Sakit Pengurang Dosa

     Saat ini, aku sedang merasakan kesakitan. Jempol kakiku sakit akibat lemari pakaian. Beuh... sakit nian. Di kuku jempol kanan terlihat biru kehitaman. Kukira tak akan demikian. Sebab aku pernah mengalami kejadian ini beberapa waktu lalu ketika suami sedang cuti. 

  Yang kali ini mungkin beda dengan kejadian kala itu. Waktu itu bisa jadi si pintu lemari pakaian jatuh mengenai tulang jempol dan bukannya bagian kuku. Ya, lemari pakaianku memang masih sangat jadul. Pintunya geser sehingga bisa jatuh kapan saja, sebab memang relnya gampang merosot dan lepas. 

    Dua jam sejak kejadian naas kemarin sore, sempat mengadu pada suami. Dia malah komen begini; 'Wong lemari kaya gitu dipakai terus. sudah tau sering gitu. Dibetulin apa gimana?' 
Huft... dasar Mas tuh, tak tahu pegelnya jempol. Nyut-nyutan dan tak bisa nyenyak tidur semalaman. Beberapa kali terbangun, mencelupkan kaki ke air es supaya reda nyut-nyutan sama pegelnya. Sayangnya, hanya sebentar rasa sakit itu hilang. 

   Giliran sholat Shubuh. Minta ampun dweh! Tak mudah buat aku sujud dan i'tidal. Subhanalloh... kesenggol dikit saja, sakitnya....! Sama sekali tak bisa i'tidal dengan baik apalagi sempurna sesuai tuntunan. Terlebih ketika mau sujud lalu tasyahud. Byuh... byuh! 

    Selepas Shubuh pagi tadi, aku coba bawa tidur lagi. Rasa sakitnya sudah mulai berkurang. Alhamdulillah... aku bisa tidur barang dua jam. Tapi, warna jempol kaki kanan jadi biru kehitaman. Semoga tak jadi masalah. Dan warnanya kembali normal. 

    Sakitku kali ini semoga bisa mengurangi dosa-dosaku. Rasa sakit merupakan cara Allah untuk mengampuni dosa ummatNya. Dengan syarat, saat di timpa musibah atau sakit itu banyak-banyaklah mengucap istighfar. Astaghfirulloh ....   

Jumat, 04 Maret 2016

PaniKefir

Kalau orang panik itu bisa karena banyak hal ya? Salah satunya kejadian yang sempat menimpaku kemarin. Perihal kefir buatanku yang hampir gagal panen. Aku sempat panik karena kefir itu pesanan dari kakak ipar adik lelakiku, Mba Irma.

Ketika aku membuka penutup toples, aku membaui tak ada aroma fermentasi susu seperti biasanya. Paniknya mulai naik, sempat berpikir kalau bibitnya mati. Aku coba aduk perlahan. Lalu aku diamkan lagi. Sebelum aku tinggal, beberapa sendok gumpalan calon kefir aku ambil. Lalu aku oleskan di wajahku. Ah, aroma susunya tercium kok. Tapi, aroma khas kefir belum terendus. Setelah seluruh mukaku tertutup oleh gumpalan susu, barulah hidungku membaui ada aroma kefir meski lamat-lamat.

Tiga jam kemudian aku perhatikan, gumpalan-gumpalan susu si calon kefir tak naik lagi kepermukaan. Muncul sebersit tanya, ‘Ini kefirnya salah pas aku memasukkan bibit kali ya? Biasanya, baru sehari saja aroma tape sudah menyeruak. Atau jangan-jangan karena penutup toples terlalu rapat sehingga proses fermentasi jadi gagal?’ Dengan rasa penasaran yang ada aku mencoba tetap sabar, aku tunggu hingga tiga jam kedepan lagi. Barangkali ada perubahan. Aku memasukkan toples berisi calon kefir itu kedalam kulkas. Mungkin suhu yang sejuk bisa mempercepat proses fermentasi. Sebab suhu ruangan dapur terasa lebih panas.


Ketika aku memaksa diri untuk memanen kefir, coba di icip-icip dulu si Kefir. Dan ternyata, rasanya sama seperti Kefir biasanya. Alhamdulillah... lega banget. Pesanan bisa terselesaikan. Tidak mengecewakan pemesan dan aku tak perlu beli bibit baru lagi. Itu berarti si bibit Kefir masih hidup dan bisa aku gunakan lagi.

Hati-hati Menjaga Hati

Membaca sebuah Quotes yang aku lihat di G+, sedikit menampar hati. Di sana tertulis; “Jaman semakin aneh, yang baik disia-siain, yang jahat dikagum-kagumin. Yang modus di pertahanin, sedangkan yang tulus disia-siain. Aneh kan?”
          Tamparan itu untuk mengingatkan aku akan peristiwa yang pernah terjadi. Ketika aku masih mengaggumi seorang pria yang pernah jadi masa laluku. Sedangkan aku? Statusku saat itu telah bersuami seperti saat ini. Apakah rasa kagum itu menjadikanku lupa daratan sehingga menghianati suamiku? Tidak. Ini hanya hati yang di ombang-ambing perasaan. Kalau istilah saat ini, baper!
          Diantara aku dan masa laluku itu tak pernah ada kencan apalagi main gila. Ini pure hati yang sedang dipermainkan oleh rasa. Menganggap bahwa seseorang itu masih menyimpan cinta hingga akhirnya masih belum menikah hingga saat ini.
          Tapi sesungguhnya itu merupakan sesuatu yang baik. Ya, peristiwa itu menjadikan diriku mengetahui bahwa suamiku adalah lelaki yang luar biasa. Dia paham bahwa aku tetap menjaga diri, karena hanya hati yang hanyut dalam sebuah permainan.