Bekerja menjadi tujuan utama ku datang ke negeri ginseng, Korea Selatan. Belajar tentang banyak hal itu yang ku inginkan. Dan bisa jalan-jalan alias tamasya yang menjadi pelepas lelah dari kesibukan ku bekerja.
Tempat aku bekerja sangat jauh dari keramaian kota. Di desa. Itu sepantasnya sebutan yang tepat untuk tempat yang ku tinggali sekarang ini. Di kelilingi sawah dan perkebunan. Seringkali aku lihat gundukan tanah sebagai tempat peristirahatan terakhir yang di sebut Bong Cina kalau di Cilacap, desa kelahiranku.
Liburan pertama yang ku dapat bertepatan dengan Cuseok. Cuseok ini merupakan hari panen raya orang Korea. Biasanya para pekerja dapat libur minimal 4 hari hingga seminggu.
Awalnya aku dan teman-teman satu pabrik dapat jatah libur hingga hari Selasa. Namun, ketika hari Sabtu kemarin aku dan teman-teman di minta kesediannya untuk lembur di hari Selasa. Aku yang masih anak baru tentu tak berani menolak. Jadi praktis aku hanya dapat menikmati liburan hanya tiga hari. Padahal seharusnya empat hari, dari mulai hari Minggu hingga Selasa.
Di hari Sabtu seharusnya aku bekerja lembur hingga sore hari. Namun, senior perempuanku_Anissa mengajak aku ketemuan dengan temannya. Temannya itu asli pribumi sini. Terang saja aku sangat senang sekali di ajak jalan-jalan untuk pertama kalinya.
Tengah hari, sekitar pukul 13.00 waktu Korea, kami berdua sudah siap untuk berangkat menuju halte bus terdekat. Untuk sampai ke tempat itu kami harus jalan kaki. Melewati perkebunan kecil. Lapangan tenis yang sebelahnya terdapat sebuah danau yang di hiasi oleh pohon teratai serta air mancur yang memancar dengan cantik di beberapa sisi. Di danau itu terlihat beberap orang yang sedang asyik memancing. Sepertinya ada ikan yang sedang mereka nanti
Sebetulnya ada jalan pintas melewati pemakaman. Tapi senior ku lebih memillih lewat jalan biasa. Membutuhkan waktu hampir 15 menit untuk sampai di halte Heung Cheon.
Korea memang negara maju, untuk kemudahan transportasi sudah tak di ragukan lagi. Di setiap kota besar di negara ini pasti sangat gampang memilih bus atau moda transportasi yang ingin di naiki. Tapi berhubung aku di desa, tidak setiap jam ada bus yang dapat di tumpangi. Ada jadwalnya dan tidak 24 jam tersedia.
Jadwal terakhir bus menuju kota terdekat hanya sampai pukul 18.30 WKS (waktu korea selatan). Jadi lepas jam segitu jangan pernah berharap kemana pun menggunakan bus. Paling satu satunya alternatif hanya taksi. Namun ongkos taksi di sini lumayan mahal. Untuk sampai ke Icheon, kota paing dekat di sini, harus mengeluarkan kocek minimal 20.000 won untuk sekali naik. Sedangkan ongkos bus untuk sekali jalan hanya 1.300 won (cash) dan 1.100 jika menggunakan cash bee atau kartu transportasi.