Jumat, 04 Maret 2016

PaniKefir

Kalau orang panik itu bisa karena banyak hal ya? Salah satunya kejadian yang sempat menimpaku kemarin. Perihal kefir buatanku yang hampir gagal panen. Aku sempat panik karena kefir itu pesanan dari kakak ipar adik lelakiku, Mba Irma.

Ketika aku membuka penutup toples, aku membaui tak ada aroma fermentasi susu seperti biasanya. Paniknya mulai naik, sempat berpikir kalau bibitnya mati. Aku coba aduk perlahan. Lalu aku diamkan lagi. Sebelum aku tinggal, beberapa sendok gumpalan calon kefir aku ambil. Lalu aku oleskan di wajahku. Ah, aroma susunya tercium kok. Tapi, aroma khas kefir belum terendus. Setelah seluruh mukaku tertutup oleh gumpalan susu, barulah hidungku membaui ada aroma kefir meski lamat-lamat.

Tiga jam kemudian aku perhatikan, gumpalan-gumpalan susu si calon kefir tak naik lagi kepermukaan. Muncul sebersit tanya, ‘Ini kefirnya salah pas aku memasukkan bibit kali ya? Biasanya, baru sehari saja aroma tape sudah menyeruak. Atau jangan-jangan karena penutup toples terlalu rapat sehingga proses fermentasi jadi gagal?’ Dengan rasa penasaran yang ada aku mencoba tetap sabar, aku tunggu hingga tiga jam kedepan lagi. Barangkali ada perubahan. Aku memasukkan toples berisi calon kefir itu kedalam kulkas. Mungkin suhu yang sejuk bisa mempercepat proses fermentasi. Sebab suhu ruangan dapur terasa lebih panas.


Ketika aku memaksa diri untuk memanen kefir, coba di icip-icip dulu si Kefir. Dan ternyata, rasanya sama seperti Kefir biasanya. Alhamdulillah... lega banget. Pesanan bisa terselesaikan. Tidak mengecewakan pemesan dan aku tak perlu beli bibit baru lagi. Itu berarti si bibit Kefir masih hidup dan bisa aku gunakan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar