Kalau orang panik itu bisa karena banyak hal ya? Salah
satunya kejadian yang sempat menimpaku kemarin. Perihal kefir buatanku yang
hampir gagal panen. Aku sempat panik karena kefir itu pesanan dari kakak ipar
adik lelakiku, Mba Irma.
Ketika aku membuka penutup toples, aku membaui
tak ada aroma fermentasi susu seperti biasanya. Paniknya mulai naik, sempat
berpikir kalau bibitnya mati. Aku coba aduk perlahan. Lalu aku diamkan lagi. Sebelum
aku tinggal, beberapa sendok gumpalan calon kefir aku ambil. Lalu aku oleskan
di wajahku. Ah, aroma susunya tercium kok. Tapi, aroma khas kefir belum
terendus. Setelah seluruh mukaku tertutup oleh gumpalan susu, barulah hidungku
membaui ada aroma kefir meski lamat-lamat.
Tiga jam kemudian aku perhatikan, gumpalan-gumpalan
susu si calon kefir tak naik lagi kepermukaan. Muncul sebersit tanya, ‘Ini
kefirnya salah pas aku memasukkan bibit kali ya? Biasanya, baru sehari saja
aroma tape sudah menyeruak. Atau jangan-jangan karena penutup toples terlalu
rapat sehingga proses fermentasi jadi gagal?’ Dengan rasa penasaran yang ada
aku mencoba tetap sabar, aku tunggu hingga tiga jam kedepan lagi. Barangkali ada
perubahan. Aku memasukkan toples berisi calon kefir itu kedalam kulkas. Mungkin
suhu yang sejuk bisa mempercepat proses fermentasi. Sebab suhu ruangan dapur
terasa lebih panas.
Ketika aku memaksa diri untuk memanen kefir, coba
di icip-icip dulu si Kefir. Dan ternyata, rasanya sama seperti Kefir biasanya. Alhamdulillah...
lega banget. Pesanan bisa terselesaikan. Tidak mengecewakan pemesan dan aku tak
perlu beli bibit baru lagi. Itu berarti si bibit Kefir masih hidup dan bisa aku
gunakan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar